Peristiwa ini terulang lagi. Dan seingatku inilah yang ketiga kalinya. Mengapa semua ini terjadi padaku. Apakah Tuhan telah menggariskan demikian. Atau apakah sebab-sebab semua peristiwa ini sebenarnya bisa dihindari. Tapi bagaimana caranya. Sampai kapankah peristiwa-peristiwa ini berlalu dari hadapanku.
Kurasa sifat mereka berdua sama saja. Sama-sama keras kepala. Aku pernah bertanya pada seorang temanku lulusan kedokteran, menurutnya mereka berasal dari satu gen yang sama. Salah satunya emosi, seperti kakek. Juga kepada temanku jebolan psikologi, katanya seiring perbedaan lingkungan kehidupannya, itu menjadikan mereka berbeda jalan pikirannya. Entahlah, tetap saja aku bingung dengan tingkah mereka itu dan pendapat kedua temanku itu.
Mungkin mereka butuh waktu untuk saling mendiamkan diri dulu satu sama lain. Karena berusaha untuk menghindari kejadian-kejadian yang lebih gila dari itu. Masih dapat kuingat peristiwa itu. Mulut mereka bagaikan halilintar yang tak mau didahului yang lain. Apalagi dikalahkan yang lain, dan akan semakin membuatku lebih bingung lagi.
Sedangkan nasihat dari ustadzku. Seorang anak dan orang tua tidak bisa bercerai seperti hubungan suami istri. Walaupun kata-kata senada keluar dari mulut mereka, yang dianggap atau menganggap bukan anak maupun orang tuanya atau sebaliknya. Jadi berdoa adalah salah satu jalan selain terus berusaha menyatukan mereka dalam acara-acara yang dapat mempertemukan mereka dan berbicara baik-baik.
Lalu bagaimana jalan keluar terbaik yang harus aku lakukan. Ya Tuhan aku masih bingung, bagaimana aku harus berbuat.
Apakah aku harus memberi mereka obat tidur, kemudian membius mereka dan merobek kulit mereka dengan pisau lalu mengambil inti dari gen-gen mereka yang bersifat keras tersebut dan memasukkan gen yang sama untuk jalan pikiran mereka. Ya, kurasa itu cara yang tepat agar besok muncul berita di koran dan televisi sebagai selebriti dadakan karena berita berjudul “Seorang Ibu Memutilasi Suami dan Anaknya Sendiri”.
Itu masih mending dari pada ditambah memakan bagian tubuh mereka. Dan aku diangkat sebagai tokoh utama dalam film SUMANTO Part 2 (versi SUMANTI).
Atau menunggu adalah cara yang logis, sampai mereka akan baikan lagi seperti kejadian yang pertama dan kedua. Apakah aku harus menunggu sampai suamiku menaikkan uang saku untuk Aan tiga kali lipat. Terus dari mana aku mendapatkan uang belanja dengan gaji suamiku yang pas-pasan. Apalagi hampir semua kebutuhan hidup sekarang naiknya selangit, dan tidak pernah merasa ketinggian untuk kembali normal bahkan turun seperti jaman dulu. Atau menunggu sampai bulan Syawal untuk saling minta maaf tahun depan. Seperti saat minggatnya Aan untuk yang pertama dan kedua-kalinya waktu itu.
Oh Tuhan, aku benar-benar sudah merasa berada di ujung kebingungan. Oh Tuhan aku bertanya kapada-Mu apa yang harus kuperbuat untuk mengusir kegelisahan hatiku ini.
cerita diatas diambil dari kemudian.com













Recent Comments